" Jangan cm berandai-andai/membayangkan sesuatu yg bhkn terlihat mustahil olehmu, lakukanlah, mgkn apa yg akan km lakukan itu akan berakhir bahagia. tdk ada slhnya mencoba. dan jgn takut mencoba sesuatu yg baru"

Jumat, 20 April 2012

Favorite Part of "Zauri" *lanjutan dari #1

     Lanjutannya favorite part "Zauri" #1, yang kemaren udah sempat di post :)


    Kira-kira lewat tangah hari mereka menemukan seonggok tubuh manusia, atau lebih tepat dulunya manusia karena tingal tulang beulang belaka, terpisah satu sama lain. Dilihat dari ceceran darah yang tersebar dimana-mana, rupanya orang ini di mansa baru-baru ini. di tempat itu bertebaran barang-barang miliknya, kebanyakan sudah rusa, robek, dan tercabik. Mengernyitan hidung karena tak tahan baunya, dengan ngeri gadis itu mencari jalan memutar.
    Di bawah sebuah batu besar ia menemukan sesuatu. Selembar kertas yang lebar, basah, dan sobek-sobek, namun tulisannya masih dapat di baca. Isinya mungkin tentang pertunjukkan seorang bernama Kayla di sertai temannya, Mio. Tidak menarik. Cepat ditinggalkannya tempat yang mengerikan itu.
    Menjelang petang ia tiba d tempat di mana sumgai itu membentuk semacam kolam, berarus tenang dengan tepian berbatu, kelihatan nyamanuntuk direnangi. Melihatnya, timbul keinginan si gadis untuk mandi. Tempat itu agak tertutup, tidak hanya oleh batu besartetapi juga semak ilalang yang cukup tinggi. Ada beberapa ‘tumbuhan kantung’ di situ. Hanya ujung-ujungnya ang terlihat karena terhalang ilalang.
    “Bagaimana?” tanyanya pada si peri. “Kita mandi atau tidak?”
    Si peri mengangguk senang, lalu terbang menceburkan diri ke dalam air, cahayanya membayang di bawah permukaan. Gadis itu melepas pakaian luarnya. Hanya dengan pakain dalam, berupa terusan berwarna putih, ia masuk ke dalam air.
    Benar juga, airnya nyaman sekali. Amat bening dan sejuk. Semua kepenatan setelah berjalan seharian hilang dalam sejenak. Si peri juga terlihat sangat menikmati berkali-kali terjun dari atas batu, menyelam berputar-putar kemudian muncul di permukaan tiba-tiba. Percikan air dan debu cahayanya terlihat amat indah.
    “Kau tahu..., aku ingin tahu kenapa aku tak ingat apa-apa. Sejak semalam aku bertanya-tanya siapa aku sebenarnya. Apa yang ku alami samoai bisa tiba di sini?”
    Si peri balas memandangnya dengan sedih. Dua bulir air mata mungil bergulir di pipinya.
    “Hei, jangan menangis. Aku tak sesedih itu, hanya bingung, itu saja. Aku baik-baik saja, kita akan keluar dari hutan ini, oke?”
Belum sempat menjawab pertanyaannya, si peri melonjak kaget. Ada sesuatu menghampiri mereka, suara langkahnya terdengar jelas di tempat yang hening itu. Dari balik ilalang, muncul sesososk tubuh tinggi. Ternyata pemdaa yang tadi pagi. Pemuda itu tidak menunujukkan reaksi apa pun melihat seperti itu.
    “Apa yang kau lakukan di sini?!” teriak si gadis, merasa panik karena ia hanya memakai pakaian dalam.
    “Bukan urusanmu.”
    “Kenapa kau mengikutiku?”
    Pemuda itu memandang jijik kepadanya. “Aku tidak mengikutimu.”
    “Lalu, kenapa kau ada di sini?”
“Kau ini terlalu banyak tanya!”
    “Dan, kau menyebalkan!”
    “Terserah kau, lah,” si pemuda melangkah maju.
    “Jangan mendekat!”
    Tetapi, si pemuda mengabaikan peringatan itu, tetap maju sambil menyibakkan ilalang. Merasa terancam, si gadis melempar sebuah batu.
“Aduh!”
    “Sudah kibilang, jangan mendekat!”
Si pemuda memandangnya geram, lalu mengankat kedua tangannya untuk melindungi kepala karena si gadis kemudian mengiriminya hujan batu.
    “Hentikan!” teriak si pemuda, tapi tak berguna.
    Akhirnya, ia menghampiri si gadis, menerjang air dengan langkah cepat. Setelah menepis si peri yang terbang menyerang dengan sebelah tangannya, ia menarik tangan si gadis sampai berdiri.
    “Diam!” bentaknya. “Aku tak tertarik padamu!”
    Kata-kata kasar si pemuda, entah bagaimana, justru membuat si gadis tenang. Tangannya turun kesamping tubuhnya, batu-batu lepas dari genggamannya. Dia memberanikan diri memandang si pemuda, yang membalas tatapanya sejenak kemudian berpaling pergi.
    Seakan membuktikan kata-katanya, si pemuda menghunus pedang kemudian menghampiri sebuah tanaman kantung. Sulur-sulurnya langsung menyambar si pemuda dari berbagai penjuru. Tetapi, si pemuda terlalu cepat. Pedangnya berkelebat hampir tak terlihat, menimbulkan suara desingan yang membuat bulu kuduk berdiri. Dalam sekejap semua sulur tertebas, jatuh ke tanah dengan suara gedebuk pelan.
    “Wow!” bisik si gadis, kagum.
    Di lihatnya pemuda mendekati tanaman kantug itu, yang kini tak berdaya tanpa sulur. Tetapi, sedetik kemudian, sepasang sulur membelitnya tiba-tiba dan pemuda itu terangkat dari tanah. Pedangnya terlempar di antara semak.
    “Hei!” si gadis berlari menghampiri.
    “Jangan mendekat!” terak si pemuda. Tetapi sama dengan yang di lakukan pemuda itu tadi, si gadis mengabaikan peringatan itu.
“Kubilang...—“
    “Diamlah!” potong si gadis. “Kelihatannya, setiap kali kau bergeraksulur itu membelit semakin erat!”
Itu betul. Sekarang si pemuda terbelit dari bahu sampai kaki, melayang di udara tanpa bisa menggerakkan anggota tubuh selain kepalanya. Rupanya itu sulur dari tanaman lain, yang tertutup ilalang hampir seluruhnya sehingga si pemuda tidak melihatnya.
    Celingukan, si gadis mencari-cari sesuatu yang bisa  di gunakan.... Mana pedang itu tadi? Ah, itu dia! Diraihnya pedang itu, lalu dilemparnya ke arah kantung hijau raksasa itu..... Kena! Si pemuda langsung jatuh berdebam ke tanah begitu sulur-sulur tumbuhan kantung tadi lemas dan layu. Butuh beberapa menit untuk lepas dari sulur-sulur itu sepenuhnya.
    Mereka berdiri berpandangan.
    “Terima kasih atas pertolonganmu,” kata si pemuda pelan.
    “Yah, aku ‘tak kan pura-pura tidak bermaksud menolong...,” sindir si gadis, tersenyum.
    Untuk pertama kalinya, si pemuda mengubah ekspresi wajahnya. Rupanya ia teringat kejadian tadi pagi, dan ikut tersenyum juga.
    Mereka melewatkan beberapa menit berikutna dengan kikuk. Yang pertama masih terpana melihat senyum yang kedua, sementara yang kedua merasa tidak nyaman dengan penampilan pertama.
    “Ehm. Mungkin kau sebaiknya memakai pakaian, nanti masuk angin...”
“Oh!” pekiki si gadis tersadar, mukanya merah karena malu. Secepat kilat ia berlari ke arah pakaiannya. Sambil berpakaian ia melirik ke arah si pemuda, yang sekarang sedang menebas tumbuhan kantung, lalu mengisi beberapa botol dengan cairan yang terdapat didalam kantungnya.
    Kejadian tadi rupanya mengubah sikap si pemuda. Dia tidak terlalu ramah, tetapi cukup komunikatif. Ketika malam tiba mereka duduk mengelilingi api unggun, membakar daging muphi yang di tangkap si pemuda. Muphi adalah semacam hewn kecil berbulu yang larinya sangat cepat.
    “Namaku Dios,” kata pemuda itu, mengulurkan dagingnya yang sudah matang.
    “Kau tinggal disini?”  tanya si gadis. “Hm! Daging ini enak sekali!”
    “Tidak, tapi hutan ini sudah seperti rumahku.”
    “Mengapa kau mengambil bisa hewan dan mengambil cairan tumbuhan?”
    “Karena mahal harganya. Terutama, madu bubaglop.”
    “Madu...—apa?” Si gadis menatap bertanya.
    “Tanaman berkantung.”
    “Oh.”
    Dios mengambil daging bagiannya. “Apa kau lakukan di sini?”
    Si gadis terdiam. Ia tidak mengetahui jawabannya.
    “Siapa namamu?”
    “Aku...—mm...., Kayla,” jawab si gadis setelah berpikir sejenak, teringat kertas lebar yang ditemukannya tadi siang di dekat belulang. “Dan dia...,” katanya menujuk si peri. “....Mio.”
    “Baiklah, Kayla,” kata Dios. “Tidurlah di dekat api unggun. Besok kita keluar hutan.”
    Dios bangkit, duduk bersandar pada sebuah batu besar. Nerasa kenyang dan nyaman, Kayla membaringkan tubuh. Merasa lega Dios tidak bertanya apa-apa lagi.
    Perjalanan keluar hutan esok paginya lebih menyenangkan bagi Kayla karena ia punya teman. Mio tidak isa bicara, walaupun Dios lebih banyak diam, setidaknya ia masih bisa menjawab pertanyaannya. Mereka menemukan bubaglop lagi, dan Kayla lantas mencoba metode barunya menaklukan tanaman berwarna mencolok itu—melempar pedang ke kantungnya, dan Dios mengakui metode itu lebih aman daripada metode ‘tebas sulur’. Yang sulit adalah mencari waktu yang tepat agar pedang dapat meluncur mulus tanpa menabrak kibasan sulur.
    “Kita harus mengalihkan perhatian sulur-sulur itu. Bagaimana kalau kau belitkan badanmu pada mereka seperti kemarin sementara aku membidik...—oke, oke..., Cuma bercanda,” usul Kayla.
    Mereka berhasil mengisi dua botol madu bubaglop, dan menjelang petang hari mereka tiba di tepi hutan.
    Tepi hutan berbatasan dengan padang rumput yang terhamar luas, dilatari bebukitan yang membingkai kaki langit berwarna kemerahan. Di kejauhan tampakrumpun pepohonan. Sebuah pondok terselip di antaranya.
    “Sudah hampir malam, kita ke pondok itu saja.” Kata Dios.
    Kayla menurut. Mio terbang mendahului mereka. Matahari sudah hampir tenggelam sekarang, meninggalakn semburat merah dan emas di antasa birunya langit. Mereka berdiri memandang matahari. Angin bertiup pelan. Pemandangan yang terlalu indah untuk di lewatkan.
    Ketika mereka tiba di pondok, matahari sudah benar-benar tenggelam. Cahaya memancar dari jendela pondok; ada seseorang di sana. Dios
    “Kau terlambat!” kata seseorang.
    Kayla mengikuti Dios, langsung berhadapan dengan seorang laki-laki berambut merah keriting memaka pakaian hijau zamrud, sewarna dengan matanya. Melihatnya,  anak laki-laki iu bersiul kagum.
    “Ini, hasil perburunmu?” tanyanya pada Dios. “Kalau banyak gadi seperti dia di Hutan Gizmoa, aku mau setiap hari berburu!”
“Namanya Kayla,” kata Dios tak acuh , melepas tas yang membelit pinggangnya.
    Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya.
    “Panggil aku Kid,” katanya.
    “Hai, Kid,” sahut Kayla , menyambut tangannya. “Ini temanku, Mio”
“Wow! Peri asli!” seru Kid, mengulurkan tangan—sebetulnya jari—kepada Mio yang menatapnya curiga tetapi kemudian menjabat jarinya.
    “Hei, Dios, kau pasang umpan apa sampai bisa mendapatkan dia?” tanya Kid.
    “Kalau mau tanya nanti saja,” jawab Dios, yang sementara itu sudah sibuk menyiapkan tungku.
    “Ah iya! Makan malam! Aku tadi menankap palazzo yang besar sekali. Kau harus memberiku selamat, Dios!”
    Kid melesat keluar, lalu masuk lagi menjunjung di atas sebuah nampan, hasil buruannya yang memang besar sekali. Kayla menatap palazzo itu penuh minat. Kelihatannya sejenis unggas tapi tak banyak yang bisa di ketahui dari wujudnya karena selain sudah dikuliti, juga sudah dibersihkan isi perutnya serta dipotong kapala dan kedua kakinya. Mengenai ukurannya, bahkan Diospun mengakui itu palazzo terbesar yang pernah dilihatnya.
    Senang dan bangga, Kid menceritakan kisah perburuannya, bagaimana ia mengejar, menyudutkan, dan menangkap si palazzo dengan tangan telanjang. Di akhir cerita, para pendengarnya mendapat informasi bahwa ia mampu berlari secepat kilat, melompat setinggi pohon, dan memiliki sepasang tangan yang luar biasa cekatan. Ceritanya nyaris meyakinkan kalau saja Dios tidak menemukan sebuah jaringdi belakang pintu. Akhirnya, dengan muka merah padam, anak laki-laki ‘super’ mengakui bahwa ia menemukan si palazzo terperangkap di dala jaringnya, yang tadi ia pasang untuk menangkap  muphi.
    Makan malam itu menyenangkan. Daging palazzo sangat lezat dan cukup banyak untuk semua oang. Kid senang bicara, menceritakan banyak lelucon yang membuat Kayla tertawa dan Dios tersenyum tipis. Mio, tidak makan daging, memilih buah kecil oranye sebesar ibu jari, yang tumbuh pada semak di luar pondok. Kid bercerita bahwa Ia yatim piatu. Tadinya Ia pencuri, sampai bertemu dengan Dios. Rupanya, ia dan Dios suatu malam memasuki rumah yang sama.
    “Karena banyak penjaganya, aku mengendap-endap ke balik tirai. Ternyata sudah ada orang di situ! Aku kaget sekali dan kami langsung ketahuan,” kisah Kid sambil memasukkan potongan daging ke mlutnya.
    “Siapa suruh teriak?” kata Dios.
    “Akuu ‘kan kaget!” Kid membela diri.
“Mana ada pencuri yang begitu ribut! Benar-benar bodoh,” balas Dios.
“Lalu bagaimana?” tanya Kayla penasaran.
    “Kami dikejar-kejar penjaga keliling rumah. Akhirnya kami terpaksa bekerja sama agar bisa lolos. Padahal, sebelumnya kami saling menyalahkan!” kata Kid. “Tapi, aku tak berhasil mencuri. Gagal karena bertemu dia!”
    “Setelah itu, kalian berteman?”
    Kid mengangguk. “Tapi, aku tak berhasil mencuri kalau dia ada di sekitarku! Kau ini pembawa sial, atau pa?” Kid menoleh pada Dios.
    Dios Cuma tersenyum kecil. Tetapi, air mukanya berubah ketika Kayla bertanya kepadanya.
    “Apa yang kau lakukan di rumah itu, Dios? Aku tak bisa membayangkan kau hendak mencuri juga.”
    Dios tidak menjawab.
    “Memang tidak!” Kid meneguk isi gelasnya. “Dia di sana mencari petunjuk tentang kakaknya.”
    Dios menatap Kid tajam, yang langsung tersedak dan mengubah topik pembicaraan.
    “Kau sendiri bagaimana?” tanya Kid, setelah berhasil meredakan tentang batuk-batuknya. “Cerita tentang dirimu sendiri, dong!”
    Kayla terdiam. Lalu meletakkan garpunya.
    “Aku...—“ katanya pelan. “Tidak tahu.”
    “Maksudmu?
    “Aku tidak ingat apa-apa...”
    Hening sesaat.
    Kid memandang Dios, yang ternyata sedang menatap Kayla.
    “Ingatanmu hilang?” tanya Dios.
    “Yah..., mngkin seperti itu. Tiba-tiba saja aku berada di tengah hutan, tanpa mengetahui bagaimana aku bisa berada di sana. Aku bahkan tak ingat namaku.”
    Kayla kemudian menceritakan pengalamannya, termasuk ketika ia menemukan tulang belulang itu.
    “Jadi, aku menggunakan nama itu karena itulah yang pertama kali terlintas. Kalau kalian ingin memanggilku dengan nama lain...—“
    “Aku akan memanggilmu Kayla,” putus Dios. “Akan sulit kalau tak punya nama.”
    Kid mengangguk setuju. “Betul! Kayla nama yang cocok untukmu. Ikutlah degan kami sampai kau bisa mengingat kembali.”
    Kayla menatap Kid. “Betulkah?”
    “Iya. Kau bagian dari kami sekarang,” jawab Kid.
    Kayla berpaling pada Dios, yang menganggukkan kepala.
    “Kami akan membantumu mengingat kembali,” kata Dios.
    “terima kasih,” ujar Kayla, hampir menangis karena terharu.
    Mio terbang mengitari mereka. Senyum mengembang di wajah mungilnya.
                                              ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar