" Jangan cm berandai-andai/membayangkan sesuatu yg bhkn terlihat mustahil olehmu, lakukanlah, mgkn apa yg akan km lakukan itu akan berakhir bahagia. tdk ada slhnya mencoba. dan jgn takut mencoba sesuatu yg baru"

Jumat, 20 April 2012

Seputar luar angkasa atau antariksa

Luar angkasa atau angkasa luar atau antariksa (juga disebut sebagai angkasa), merujuk ke bagian yang relatif kosong dari Jagad Raya, di luar atmosfer dari benda "celestial". Istilah luar angkasa digunakan untuk membedakannya dengan ruang udara dan lokasi "terrestrial".
Karena atmosfer Bumi tidak memiliki batas yang jelas, namun terdiri dari lapisan yang secara bertahap semakin menipis dengan naiknya ketinggian, tidak ada batasan yang jelas antara atmosfer dan angkasa. Ketinggian 100 kilometer atau 62 mil ditetapkan oleh Federation Aeronatique Internationale  merupakan definisi yang paling banyak diterima sebagai batasan antara atmosfer dan angkasa.
Di Amerika Serikat, seseorang yang berada di atas ketinggian 80 km ditetapkan sebagai astronot. 120 km (75 mil atau 400.000 kaki) menandai batasan di mana efek atmosfer menjadi jelas sewaktu proses memasuki kembali atmosfer (re-entry) 
 
Jarak menuju angkasa
    1. Permukaan laut - 101.3 kPa (1 atm; 1.013 bar; 29.92 in Hg; 760 mm Hg; 14.5 lbf / in ²) tekanan atmosfer
    2. 3.9 km (12,500 ka) (2.4 mil) - FAA mengharuskan pasokan oksigen untuk pilot pesawat tidak bertekanan
    3. 5.0 km (16,400 ka) (3.1 mil) - 50 kPa tekanan atmosfer
    4. 5.3 km (17,400 ka) (3.3 mil) - Separuh atmosfer Bumi berada di bawah ketinggian ini
    5. 8.0 km (26,200 ka) (5 mil) - Zona maut untuk pendaki manusia
    6. 8.85 km (29,035 ka) (5.5 mil) - Puncak Gunung Everest, gunung tertinggi di Bumi (26 kPa)
    7. 16 km (52,500 ka) (9.9 mil) - Kabin atau pakaian bertekanan diinginkan
    8. 18 km (59,100 ka) (11.2 mil) - Perbatasan antara Troposfer dan stratosfer
    9. 20 km (65,600 ka) (12.4 mil) - Air pada suhu kamar mendidih tanpa bekas bertekanan (Tanggapan yang cairan tubuh akan mulai mendidih pada titik ini adalah salah karena tubuh mengenakan tekanan yang cukup untuk mencegah terjadi)
    10. 24 km (78,700 ka) (14.9 mil) - Sistem tekanan pesawat biasa tidak lagi berfungsi
    11. 32 km (105,000 + ka) (19.9 mil) - Turbojet tidak lagi berfungsi
    12. 34.7 km (113,740 ka) (21.5 mil) - Rekor ketinggian untuk penerbangan manusia dalam balon
    13. 45 km (147,600 ka) (28 mil) - Ramjet tidak lagi berfungsi.
    14. 50 km (164,000 ka) (31 mil) - Perbatasan antara stratosfer dan Mesosfer
    15. 53 km (174,000 ka) (33 mil) - Rekor ketinggian untuk balon udara
    16. 80.5 km (264,000 ka) (50 mil) - Perbatasan antara Mesosfer dan Termosfer. Definisi penerbangan antariksa oleh A.S.
    17. 100 km (328,100 ka) (62.1 mil) - Garis Karman, batas antariksa menurut Fédération Aéronautique Internationale. Permukaan aerodinamik tidak lagi efisien akibat kepadatan atmosfer yang rendah. Kecepatan angkat umumnya melebihi kecepatan orbit. Turbopause.
    18. 120 km (393,400 ka) (74.6 mil) - seretan atmosfer mulai terasa saat masuk kembali dari orbit
    19. 200 km (124.2 mil) - Orbit paling rendah yang mungkin untuk stabilitas jangka-pendek (stabil untuk beberapa hari)
    20. 307 km (190.8 mil) - Orbit misi STS-1
    21. 350 km (217.4 mil) - Orit paling rendah yang mungkin untuk stabilitas jangka-panjang (stabil untuk banyak tahun)
    22. 360 km (223.7 mil) - Orbit rata-rata ISS, yang masih berubah akibat seretan dan pertambahan berkala
    23. 390 km (242.3 mil) - Orbit misi Mir
    24. 440 km (273.4 mil) - Orbit misi Skylab
    25. 587 km (364.8 mil) - Orbit Hubble
    26. 690 km (428.7 mil) - Perbatasan antara Termosfer dan Eksosfer, awal sabuk radiasi Van Allen dalam
    27. 780 km (484.7 mil) - Orbit Iridium
    28. 1,374 km (850 mil) - ketinggian tertinggi dicapai penerbangan mengorbit Bumi bermanusia (Gemini XI dengan Agena target vehicle)
    29. 10,000 km (6,213 mil) - Ujung sabuk radiasi Van Allen dalam
    30. 19,000 km (11,900 mil) - Permulaan sabuk radiasi Van Allen luar
    31. 20,200 km (12,600 mil) - Orbit GPS
    32. 35,786 km (22,237 mil) - Ketinggian orbit geopegun
    33. 63,800 km (39,600 mil) - Ujung sabuk radiasi Van Allen luar
    34. 320,000 km (200,000 mil) - Gravitasi Bulan mengatasi gravitasi bumi (pada titik Lagrange)
    35. 348,200 km (238,700 mil) - perigee qamari (jarak terdekat dengan Bulan)
    36. 402,100 km (249,900 mil) - apogee qamari (jarak terjauh dari Bulan)

     Batasan menuju Angkasa
    • 4,6 km (15.000 kaki) — FAA menetapkan dibutuhkannya bantuan oksigen untuk pilot pesawat dan penumpangnya.
    • 5,3 km (17.400 kaki) — Setengah atmosfer Bumi berada di bawah ketinggian ini
    • 16 km (52.500 kaki) — Kabin bertekanan atau pakaian bertekanan dibutuhkan
    • 18 km (59.000 kaki) — Batasan atas dari Troposfer
    • 20 km (65.600 kaki) — Air pada suhu ruangan akan mendidih tanpa wadah bertekanan (kepercayaan tradisional yang menyatakan bahwa cairan tubuh akan mulai mendidih pada titik ini adalah salah karena tubuh akan menciptakan tekanan yang cukup untuk mencegah pendidihan nyata)
    • 24 km (78.700 kaki) — Sistem tekanan pesawat biasa tidak lagi berfungsi
    • 32 km (105.000 kaki) — Turbojet tidak lagi berfungsi
    • 45 km (148.000 kaki) — Ramjet tidak lagi berfungsi
    • 50 km (164.000 kaki) — Stratosfer berakhir
    • 80 km (262.000 kaki) — Mesosfer berakhir
    • 100 km (328.000 kaki) — Permukaan aerodinamika tidak lagi berfungsi
    Proses masuk-kembali dari orbit dimulai pada 122 km (400.000 ft).

    Angkasa tidak sama dengan orbit

    Kesalahan pengertian umum tentang batasan ke angkasa adalah orbit terjadi dengan mencapai ketinggian ini. Orbit membutuhkan kecepatan orbit dan secara teoretis dapat terjadi pada ketinggian berapa saja. Gesekan atmosfer mencegah sebuah orbit yang terlalu rendah.
    Ketinggian minimal untuk orbit stabil dimulai sekitar 350 km (220 mil) di atas permukaan laut rata-rata, jadi untuk melakukan penerbangan angkasa orbital nyata, sebuah pesawat harus terbang lebih tinggi dan (yang lebih penting) lebih cepat dari yang dibutuhkan untuk penerbangan angkasa sub-orbital.
    Mencapai orbit membutuhkan kecepatan tinggi. Sebuah pesawat belum mencapai orbit sampai ia memutari Bumi begitu cepat sehingga gaya sentifugal ke atas membatalkan gaya grafitasi ke bawah pesawat. Setelah mencapai di luar atmosfer, sebuah pesawat memasuki orbit harus berputar ke samping dan melanjutkan pendorongan roketnya untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan; untuk orbit Bumi rendah, kecepatannya sekitar 7,9 km/s (28.400 km/jam — 18.000 mill/jam). Oleh karena itu, mencapai ketinggian yang dibutuhkan merupakan langkah pertama untuk mencapai orbit.
    Energi yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan untuk orbit bumi rendah 32MJ/kg sekitar dua puluh kali energi yang dibutuhkan untuk mencapai ketinggian dasar 10 kJ/km/kg.

  • Favorite Part of "Zauri" *lanjutan dari #1

         Lanjutannya favorite part "Zauri" #1, yang kemaren udah sempat di post :)


        Kira-kira lewat tangah hari mereka menemukan seonggok tubuh manusia, atau lebih tepat dulunya manusia karena tingal tulang beulang belaka, terpisah satu sama lain. Dilihat dari ceceran darah yang tersebar dimana-mana, rupanya orang ini di mansa baru-baru ini. di tempat itu bertebaran barang-barang miliknya, kebanyakan sudah rusa, robek, dan tercabik. Mengernyitan hidung karena tak tahan baunya, dengan ngeri gadis itu mencari jalan memutar.
        Di bawah sebuah batu besar ia menemukan sesuatu. Selembar kertas yang lebar, basah, dan sobek-sobek, namun tulisannya masih dapat di baca. Isinya mungkin tentang pertunjukkan seorang bernama Kayla di sertai temannya, Mio. Tidak menarik. Cepat ditinggalkannya tempat yang mengerikan itu.
        Menjelang petang ia tiba d tempat di mana sumgai itu membentuk semacam kolam, berarus tenang dengan tepian berbatu, kelihatan nyamanuntuk direnangi. Melihatnya, timbul keinginan si gadis untuk mandi. Tempat itu agak tertutup, tidak hanya oleh batu besartetapi juga semak ilalang yang cukup tinggi. Ada beberapa ‘tumbuhan kantung’ di situ. Hanya ujung-ujungnya ang terlihat karena terhalang ilalang.
        “Bagaimana?” tanyanya pada si peri. “Kita mandi atau tidak?”
        Si peri mengangguk senang, lalu terbang menceburkan diri ke dalam air, cahayanya membayang di bawah permukaan. Gadis itu melepas pakaian luarnya. Hanya dengan pakain dalam, berupa terusan berwarna putih, ia masuk ke dalam air.
        Benar juga, airnya nyaman sekali. Amat bening dan sejuk. Semua kepenatan setelah berjalan seharian hilang dalam sejenak. Si peri juga terlihat sangat menikmati berkali-kali terjun dari atas batu, menyelam berputar-putar kemudian muncul di permukaan tiba-tiba. Percikan air dan debu cahayanya terlihat amat indah.
        “Kau tahu..., aku ingin tahu kenapa aku tak ingat apa-apa. Sejak semalam aku bertanya-tanya siapa aku sebenarnya. Apa yang ku alami samoai bisa tiba di sini?”
        Si peri balas memandangnya dengan sedih. Dua bulir air mata mungil bergulir di pipinya.
        “Hei, jangan menangis. Aku tak sesedih itu, hanya bingung, itu saja. Aku baik-baik saja, kita akan keluar dari hutan ini, oke?”
    Belum sempat menjawab pertanyaannya, si peri melonjak kaget. Ada sesuatu menghampiri mereka, suara langkahnya terdengar jelas di tempat yang hening itu. Dari balik ilalang, muncul sesososk tubuh tinggi. Ternyata pemdaa yang tadi pagi. Pemuda itu tidak menunujukkan reaksi apa pun melihat seperti itu.
        “Apa yang kau lakukan di sini?!” teriak si gadis, merasa panik karena ia hanya memakai pakaian dalam.
        “Bukan urusanmu.”
        “Kenapa kau mengikutiku?”
        Pemuda itu memandang jijik kepadanya. “Aku tidak mengikutimu.”
        “Lalu, kenapa kau ada di sini?”
    “Kau ini terlalu banyak tanya!”
        “Dan, kau menyebalkan!”
        “Terserah kau, lah,” si pemuda melangkah maju.
        “Jangan mendekat!”
        Tetapi, si pemuda mengabaikan peringatan itu, tetap maju sambil menyibakkan ilalang. Merasa terancam, si gadis melempar sebuah batu.
    “Aduh!”
        “Sudah kibilang, jangan mendekat!”
    Si pemuda memandangnya geram, lalu mengankat kedua tangannya untuk melindungi kepala karena si gadis kemudian mengiriminya hujan batu.
        “Hentikan!” teriak si pemuda, tapi tak berguna.
        Akhirnya, ia menghampiri si gadis, menerjang air dengan langkah cepat. Setelah menepis si peri yang terbang menyerang dengan sebelah tangannya, ia menarik tangan si gadis sampai berdiri.
        “Diam!” bentaknya. “Aku tak tertarik padamu!”
        Kata-kata kasar si pemuda, entah bagaimana, justru membuat si gadis tenang. Tangannya turun kesamping tubuhnya, batu-batu lepas dari genggamannya. Dia memberanikan diri memandang si pemuda, yang membalas tatapanya sejenak kemudian berpaling pergi.
        Seakan membuktikan kata-katanya, si pemuda menghunus pedang kemudian menghampiri sebuah tanaman kantung. Sulur-sulurnya langsung menyambar si pemuda dari berbagai penjuru. Tetapi, si pemuda terlalu cepat. Pedangnya berkelebat hampir tak terlihat, menimbulkan suara desingan yang membuat bulu kuduk berdiri. Dalam sekejap semua sulur tertebas, jatuh ke tanah dengan suara gedebuk pelan.
        “Wow!” bisik si gadis, kagum.
        Di lihatnya pemuda mendekati tanaman kantug itu, yang kini tak berdaya tanpa sulur. Tetapi, sedetik kemudian, sepasang sulur membelitnya tiba-tiba dan pemuda itu terangkat dari tanah. Pedangnya terlempar di antara semak.
        “Hei!” si gadis berlari menghampiri.
        “Jangan mendekat!” terak si pemuda. Tetapi sama dengan yang di lakukan pemuda itu tadi, si gadis mengabaikan peringatan itu.
    “Kubilang...—“
        “Diamlah!” potong si gadis. “Kelihatannya, setiap kali kau bergeraksulur itu membelit semakin erat!”
    Itu betul. Sekarang si pemuda terbelit dari bahu sampai kaki, melayang di udara tanpa bisa menggerakkan anggota tubuh selain kepalanya. Rupanya itu sulur dari tanaman lain, yang tertutup ilalang hampir seluruhnya sehingga si pemuda tidak melihatnya.
        Celingukan, si gadis mencari-cari sesuatu yang bisa  di gunakan.... Mana pedang itu tadi? Ah, itu dia! Diraihnya pedang itu, lalu dilemparnya ke arah kantung hijau raksasa itu..... Kena! Si pemuda langsung jatuh berdebam ke tanah begitu sulur-sulur tumbuhan kantung tadi lemas dan layu. Butuh beberapa menit untuk lepas dari sulur-sulur itu sepenuhnya.
        Mereka berdiri berpandangan.
        “Terima kasih atas pertolonganmu,” kata si pemuda pelan.
        “Yah, aku ‘tak kan pura-pura tidak bermaksud menolong...,” sindir si gadis, tersenyum.
        Untuk pertama kalinya, si pemuda mengubah ekspresi wajahnya. Rupanya ia teringat kejadian tadi pagi, dan ikut tersenyum juga.
        Mereka melewatkan beberapa menit berikutna dengan kikuk. Yang pertama masih terpana melihat senyum yang kedua, sementara yang kedua merasa tidak nyaman dengan penampilan pertama.
        “Ehm. Mungkin kau sebaiknya memakai pakaian, nanti masuk angin...”
    “Oh!” pekiki si gadis tersadar, mukanya merah karena malu. Secepat kilat ia berlari ke arah pakaiannya. Sambil berpakaian ia melirik ke arah si pemuda, yang sekarang sedang menebas tumbuhan kantung, lalu mengisi beberapa botol dengan cairan yang terdapat didalam kantungnya.
        Kejadian tadi rupanya mengubah sikap si pemuda. Dia tidak terlalu ramah, tetapi cukup komunikatif. Ketika malam tiba mereka duduk mengelilingi api unggun, membakar daging muphi yang di tangkap si pemuda. Muphi adalah semacam hewn kecil berbulu yang larinya sangat cepat.
        “Namaku Dios,” kata pemuda itu, mengulurkan dagingnya yang sudah matang.
        “Kau tinggal disini?”  tanya si gadis. “Hm! Daging ini enak sekali!”
        “Tidak, tapi hutan ini sudah seperti rumahku.”
        “Mengapa kau mengambil bisa hewan dan mengambil cairan tumbuhan?”
        “Karena mahal harganya. Terutama, madu bubaglop.”
        “Madu...—apa?” Si gadis menatap bertanya.
        “Tanaman berkantung.”
        “Oh.”
        Dios mengambil daging bagiannya. “Apa kau lakukan di sini?”
        Si gadis terdiam. Ia tidak mengetahui jawabannya.
        “Siapa namamu?”
        “Aku...—mm...., Kayla,” jawab si gadis setelah berpikir sejenak, teringat kertas lebar yang ditemukannya tadi siang di dekat belulang. “Dan dia...,” katanya menujuk si peri. “....Mio.”
        “Baiklah, Kayla,” kata Dios. “Tidurlah di dekat api unggun. Besok kita keluar hutan.”
        Dios bangkit, duduk bersandar pada sebuah batu besar. Nerasa kenyang dan nyaman, Kayla membaringkan tubuh. Merasa lega Dios tidak bertanya apa-apa lagi.
        Perjalanan keluar hutan esok paginya lebih menyenangkan bagi Kayla karena ia punya teman. Mio tidak isa bicara, walaupun Dios lebih banyak diam, setidaknya ia masih bisa menjawab pertanyaannya. Mereka menemukan bubaglop lagi, dan Kayla lantas mencoba metode barunya menaklukan tanaman berwarna mencolok itu—melempar pedang ke kantungnya, dan Dios mengakui metode itu lebih aman daripada metode ‘tebas sulur’. Yang sulit adalah mencari waktu yang tepat agar pedang dapat meluncur mulus tanpa menabrak kibasan sulur.
        “Kita harus mengalihkan perhatian sulur-sulur itu. Bagaimana kalau kau belitkan badanmu pada mereka seperti kemarin sementara aku membidik...—oke, oke..., Cuma bercanda,” usul Kayla.
        Mereka berhasil mengisi dua botol madu bubaglop, dan menjelang petang hari mereka tiba di tepi hutan.
        Tepi hutan berbatasan dengan padang rumput yang terhamar luas, dilatari bebukitan yang membingkai kaki langit berwarna kemerahan. Di kejauhan tampakrumpun pepohonan. Sebuah pondok terselip di antaranya.
        “Sudah hampir malam, kita ke pondok itu saja.” Kata Dios.
        Kayla menurut. Mio terbang mendahului mereka. Matahari sudah hampir tenggelam sekarang, meninggalakn semburat merah dan emas di antasa birunya langit. Mereka berdiri memandang matahari. Angin bertiup pelan. Pemandangan yang terlalu indah untuk di lewatkan.
        Ketika mereka tiba di pondok, matahari sudah benar-benar tenggelam. Cahaya memancar dari jendela pondok; ada seseorang di sana. Dios
        “Kau terlambat!” kata seseorang.
        Kayla mengikuti Dios, langsung berhadapan dengan seorang laki-laki berambut merah keriting memaka pakaian hijau zamrud, sewarna dengan matanya. Melihatnya,  anak laki-laki iu bersiul kagum.
        “Ini, hasil perburunmu?” tanyanya pada Dios. “Kalau banyak gadi seperti dia di Hutan Gizmoa, aku mau setiap hari berburu!”
    “Namanya Kayla,” kata Dios tak acuh , melepas tas yang membelit pinggangnya.
        Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya.
        “Panggil aku Kid,” katanya.
        “Hai, Kid,” sahut Kayla , menyambut tangannya. “Ini temanku, Mio”
    “Wow! Peri asli!” seru Kid, mengulurkan tangan—sebetulnya jari—kepada Mio yang menatapnya curiga tetapi kemudian menjabat jarinya.
        “Hei, Dios, kau pasang umpan apa sampai bisa mendapatkan dia?” tanya Kid.
        “Kalau mau tanya nanti saja,” jawab Dios, yang sementara itu sudah sibuk menyiapkan tungku.
        “Ah iya! Makan malam! Aku tadi menankap palazzo yang besar sekali. Kau harus memberiku selamat, Dios!”
        Kid melesat keluar, lalu masuk lagi menjunjung di atas sebuah nampan, hasil buruannya yang memang besar sekali. Kayla menatap palazzo itu penuh minat. Kelihatannya sejenis unggas tapi tak banyak yang bisa di ketahui dari wujudnya karena selain sudah dikuliti, juga sudah dibersihkan isi perutnya serta dipotong kapala dan kedua kakinya. Mengenai ukurannya, bahkan Diospun mengakui itu palazzo terbesar yang pernah dilihatnya.
        Senang dan bangga, Kid menceritakan kisah perburuannya, bagaimana ia mengejar, menyudutkan, dan menangkap si palazzo dengan tangan telanjang. Di akhir cerita, para pendengarnya mendapat informasi bahwa ia mampu berlari secepat kilat, melompat setinggi pohon, dan memiliki sepasang tangan yang luar biasa cekatan. Ceritanya nyaris meyakinkan kalau saja Dios tidak menemukan sebuah jaringdi belakang pintu. Akhirnya, dengan muka merah padam, anak laki-laki ‘super’ mengakui bahwa ia menemukan si palazzo terperangkap di dala jaringnya, yang tadi ia pasang untuk menangkap  muphi.
        Makan malam itu menyenangkan. Daging palazzo sangat lezat dan cukup banyak untuk semua oang. Kid senang bicara, menceritakan banyak lelucon yang membuat Kayla tertawa dan Dios tersenyum tipis. Mio, tidak makan daging, memilih buah kecil oranye sebesar ibu jari, yang tumbuh pada semak di luar pondok. Kid bercerita bahwa Ia yatim piatu. Tadinya Ia pencuri, sampai bertemu dengan Dios. Rupanya, ia dan Dios suatu malam memasuki rumah yang sama.
        “Karena banyak penjaganya, aku mengendap-endap ke balik tirai. Ternyata sudah ada orang di situ! Aku kaget sekali dan kami langsung ketahuan,” kisah Kid sambil memasukkan potongan daging ke mlutnya.
        “Siapa suruh teriak?” kata Dios.
        “Akuu ‘kan kaget!” Kid membela diri.
    “Mana ada pencuri yang begitu ribut! Benar-benar bodoh,” balas Dios.
    “Lalu bagaimana?” tanya Kayla penasaran.
        “Kami dikejar-kejar penjaga keliling rumah. Akhirnya kami terpaksa bekerja sama agar bisa lolos. Padahal, sebelumnya kami saling menyalahkan!” kata Kid. “Tapi, aku tak berhasil mencuri. Gagal karena bertemu dia!”
        “Setelah itu, kalian berteman?”
        Kid mengangguk. “Tapi, aku tak berhasil mencuri kalau dia ada di sekitarku! Kau ini pembawa sial, atau pa?” Kid menoleh pada Dios.
        Dios Cuma tersenyum kecil. Tetapi, air mukanya berubah ketika Kayla bertanya kepadanya.
        “Apa yang kau lakukan di rumah itu, Dios? Aku tak bisa membayangkan kau hendak mencuri juga.”
        Dios tidak menjawab.
        “Memang tidak!” Kid meneguk isi gelasnya. “Dia di sana mencari petunjuk tentang kakaknya.”
        Dios menatap Kid tajam, yang langsung tersedak dan mengubah topik pembicaraan.
        “Kau sendiri bagaimana?” tanya Kid, setelah berhasil meredakan tentang batuk-batuknya. “Cerita tentang dirimu sendiri, dong!”
        Kayla terdiam. Lalu meletakkan garpunya.
        “Aku...—“ katanya pelan. “Tidak tahu.”
        “Maksudmu?
        “Aku tidak ingat apa-apa...”
        Hening sesaat.
        Kid memandang Dios, yang ternyata sedang menatap Kayla.
        “Ingatanmu hilang?” tanya Dios.
        “Yah..., mngkin seperti itu. Tiba-tiba saja aku berada di tengah hutan, tanpa mengetahui bagaimana aku bisa berada di sana. Aku bahkan tak ingat namaku.”
        Kayla kemudian menceritakan pengalamannya, termasuk ketika ia menemukan tulang belulang itu.
        “Jadi, aku menggunakan nama itu karena itulah yang pertama kali terlintas. Kalau kalian ingin memanggilku dengan nama lain...—“
        “Aku akan memanggilmu Kayla,” putus Dios. “Akan sulit kalau tak punya nama.”
        Kid mengangguk setuju. “Betul! Kayla nama yang cocok untukmu. Ikutlah degan kami sampai kau bisa mengingat kembali.”
        Kayla menatap Kid. “Betulkah?”
        “Iya. Kau bagian dari kami sekarang,” jawab Kid.
        Kayla berpaling pada Dios, yang menganggukkan kepala.
        “Kami akan membantumu mengingat kembali,” kata Dios.
        “terima kasih,” ujar Kayla, hampir menangis karena terharu.
        Mio terbang mengitari mereka. Senyum mengembang di wajah mungilnya.
                                                  ***

    Kamis, 19 April 2012

    Favorite Part of "Zauri" #1

    Ini adalah bagian yang aku suka di novel “Zarui” karya Dian K. Regia yang nantinya berubah nama menjadi Kayla karna Ia tidak ingat siapa namanya akibat telah di sihir oleh Erica, peramal kerajaan Tribiald yang ingin menggantikan posisi ayahanda Regia dengan licik. Ia disihir dengan dicuci otaknya bersama dengan Nina, pengawal sekalius sahabatnya. Nina juga disihir oleh Erica menjadi peri yang tidak bisa berbicara. Ternyata Erica menginginkan liontin kerajaan yaitu serpihan kristal zauri yang konon sangat hebat kekuatannya dan dapat menjadikannya penguasa, tidak hanya di Tribiald saja. Namun tanpa sepengetahuan Erica, ternyata serpihan kristal Zarui ada di Regia yang sudah terlanjur Ia kirim ke Hutan Gizmoa.

    Ini adalah bab 2 di buku “Zauri” tersebut. Di bab ini juga Kayla alias Regia bertemu pertama kali dengan Dios♥ tapi Dios yang ini masih bersikap dingin ke Kayla—Regia.

    Hutan Gizmoa adalah tempat paling menakutkan di seluruh Elgamb. Di dalamnya banyak makhluk aneh yang tidak hanya menyeramkan tapi juga buas. Tak banyak yang mempunyai nyali untuk masuk kesana. Di sana tumbuh pohon-pohon raksasa dengan tajuk yang lebar, membuat langit tak terlihat, berdiri rapat dengan akar-akarbesar simpang siur membelit kemna-mana. Kebanyakan, penghuni hutan itu kalau tidak buas, ya..., beracun. Nyaris mustahil bagi manusia untuk berjalan-jalan disana dan pulang dalam keadaan seperti semula.
        Satu-satunya sungai yang melintasi Hutan Gizmoa, Sungai Roan, mengalir berkelok tak henti. Di tempat-tempat tertentu yang lebih dalam terlihat beberbagai ikan, berenang sendiri atau berkelompok. Salah satu belokan bertemu dengan daretan yang landai, teduh, dan berhamparan rumput. Sesosok tubuh tergeletak di sana.
        Perlahan-lahan matanya membuka. Pandangannya langsung tertumbuk pada sepasang mata hitam kecil yang aneh tanpa bola mata.
         “Ah!” jeritnya kaget, langsung tetrduduk. “Siapa kau?”
        Sepasang mata hitam  itu ternyata milik wajah mungil, dengan tbuh yang mungil pula, yang terbang melayang dengan sepasang sayap. Di sekelilingnya berkilauan debu-debu cahaya, mirip bintik atau bubuk, bertaburan indah kemudian hilang perlahan, Nymph—peri, pikirnya.
    Peri itu terbang mengitarinya. Tingginya tidak lebih dari satu jengkal. Si peri kemudian hinggap di ujung lututnya yang terlipat di depan dada.
         “Aku tak tahu siapa kau,” kata si gadi pada si peri. “Aku...—“
    Dia memandang berkeliling dan mulai sadar. Aneh! Ia rak tahu bagaimana bisa sampai di tempat ini. ia tak bisa ingat... namanya. Lama Ia berpikir. Tetapi, titik terang tak juga datang. Dipandangnya peri itu.
         “Kau kenal aku?”
          Si peri mengangguk.
         “Aku tak ingat siapa namaku...”
         Terbang ke arah wajahnya, si peri berusaha mengatakan sesuatu, tetapi tak ada suara yang keluar. Semakin lama wajahnya semakin panik. Ia begitu ingin mengatakan sesuatu.
         “Oh..., rupanya kau tidak bisa bicara,” kata gadis itu. Si peri terlihat putus asa, tetapi malah semakin bersemangat, tangan mungilny bergerak-gerak kian kemari.
         “Sudahlah,” gadis itu menghela napas.
         Dari kejauhan terdengar berbagai suara geraman dan lolongan binatang. Gadis itu sadar matahari sudah terbenam.
         “Dengar,” katanya. “Kau mau jadi temanku?”
         Pertanyaannya sekarang di balas anggukan.
         “Sekarang sudah malam. Ini hutan yang sangat lebat, dan binatang-binatang penghuninya juga sudah mulai terdengar. Lebih baik kita cari tempat untuk tidur”
         Mendengar kata-katanya, peri langsung terbang menjauhi sungai. Cahayanya terlihat jelas karena hari sudah malam.
         “Hei! Tunggu! Mau kemana?”
         Si peri berhenti.
         “Kau mau aku mengikutimu?”
         Sepasang tangan mungil melambai, menyuruh si gadis maju.
         “Baiklah.”
         Si gadis mengikuti sang peri. Ternyata, tak jauh dari situ ada sebuah gua kecil. Mungkin lebih tepat disebut lubang karena ukurannya lebih mungil. Untuk masuk ke dalamnya harus merangkak. Lubang itu ternyata agak lapang, cukup untuk tidur dua orang. Rupanya ada binatang yang pernah bersarang di situ karena ada banyak sekali rumput kering. Gadis itu merasa lega karena di situ hangat.
         “Nah kita sudah punya tempat tidur,” katanya, lalu meringkuk di atas timbunan rumput kering. “Kemarilah.”
         Si peri langsung terbang ke pelukannya. Kemudian, mereka tertidur.
                                                                                  ***
         Keesokan paginya, ia terbagun karena si peri menarik-narik tangannya. Masih amat mengantuk ia berusaha bangkit.
         “Ada apa? Sudah pagikah?” tanyanya, menguap.
         Tetapi, si peri terbang berputar-puter dengan wajah cemas. Lalu menunjuk-nunjuk lubang masuk. Ia sudah hendak menyuruh si peri berhenti berputar ketika ia kemudian mendengar suara-suara dari arah luar. Ada yang berusaha masuk ke dalam sebuah lobang.
         Tiba-tiba, sebuah kepala reptil muncul. Hampir sebesar kepala manusia!
         “Aaah!” gadis itu menjerit karena terkejut.
          Sepasang mata kuning besar mengerjap, menatapnya. Kemudian, mulut makhluk itu membuka, memamerkan gigi-gigi kecil yang tajam mendesis. Sedetik kemudian, kepala itu menyambar!
         Untung saja gadis itu sempat menghindar. Terundur ia sampai dinding belakang, gemetar karena takut dan kaget. Makhluk itu bergerak maju. Tak bisa bergerak lagi, gadis itu meraba-raba lantai gua dan teraih olehnya sebuah batu. Tanpa pikir panjang lagi dilemparkannya batu itu. Tepat kena mata binatang itu!
    Makhluk itu meraung kesakitan. Tetapi, alih-alih mundur ia malah semakin mendekati calon mangsanya yang terpojok di sudut gua. Tak ada harapan lagi sekarang...!
         Sekonying-konyong makhluk itu berhenti. Lalu, seperti ada yang menariknya dari luar gua, ia mundur dengan cepat dan menghilang di pintu masik. Selama beberapa menit kemudian terdengar suara geraman, raungan dan bunyi dua benda beradu, sangat berisik. Makhluk itu sedang bekelahi dengan sesuatu.
         Masih meringkuk dengan si peri memeluk lehernya, gadis itu menajamkan telinganya dan selama beberapa menit berusaha untuk tidak gemetar. Kelihatannya perkelahian itu sudah usai, karena suara-suara berisik itu telah berhenti. Apakah makhluk itu sudah mati? Atau, justru sebaliknya, sedang menunggu di luar lubang, hendak melanjutkan perburuannya yang tadi terhenti sebelum perkelahian? Merasa tak ada gunanya meringkuk terus, gadis itu memberanikan diri keluar lubang.
         Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah makhluk tadi, sejenis kadal raksasa berkulit tebal, terlentang dengan sebatang pedang yang tertancap di perutnya. Di sebelahnya, berdiri seorang pemuda jakung berambut ckelat tua, pakaiannya berwarna gelap.
         Lega karena makhluk tadi sudah mati, disapanya pemida itu dengan gembira, “Hai!”
         Pemuda itu menoleh. Mata hitamnya menatap dingin.
         “Aku...—eh..., ingin mengucapkan terima kasih,” kat si gadis. “Kau seudah menyelamatkan hidupku”
         “Aku tidak menolongmu,” balas si pemuda dingin. Diambilnya sebuah botol mungil dari sebuah tas kulit, lalu berpaling ke arah makhluk itu.
         Tercengang mendengar jawabannya, si gadis menatap si pemuda, yang sedang mengorek mulut makhluk itu dengan sebilah pisau. Tak lama pemuda itu bangkit. Botol yang dibawanya kini penuh cairan bening kehijauan. Disimpannya hati-hati ke dalam tas kulitnya.
         “Apa itu?” tanyanya ingin tahu.
         “Bisa aloft,” jawab si pemuda sambil lalu, mencabut pednagnya, lalu berjalan ke arah sungai untuk membersihkan darah yang melekatinya.
         “Bisa...—apa?”
         “Aloft.”
         Si pemuda menoleh singkat ke arah makhluk itu. Rupanya makhluk itulah yang ia sebut Aloft.
         “Begini...,” kata si gadis mendekati si pemuda yang kini mengikatkan tas kulit ke pinggangnnya. “Mungkin kau tidak menyadari telah menolongku. Aku cuma mau bilang terima kasih.”
          “Sudah kubilang, aku TIDAK menologmu.”
          “Aku tadi di dalam gua, ,akhluk itu menyerangku...”
         “Salahmu sendiri kenapa diam di sana.”
          Si gadis mulah gusar. “Hei, aku Cuma mencari tempat untuk tidur, tahu!”
         “Kau tidur di sarangnya!”
          Pemuda itu berbalik pergi.
         “Hei!” panggil si gadis. “Kau tahu jalan keluar dari hutan ini? Aku tak tahu harus kemana.”
         “Itu urusanmu,” jawab si pemuda dingin, lalu bergegas pergi dengan langkah cepat.
         “Tunggu!”
         Tetapi yang d panggil tidak menoleh, terus berjalan, lalu dengan cepat menghilang di balik pepohonan. Si gadis menghela napas panjang. Setidaknya ia masih hidup, pikirnya. Lebih baik cepat keluar dari hutan.
         Merasa haus, ia berjalan ke arah sungai, meraup tangannya ke air. Lalu untuk pertama kali ia melihat wajahnya.
         Sepasang mata biru tua balas memandangnya. Rambutnya cokelat, agak berantakan, dan di sana-sini banyak tersembul rumput kering.
         Namun, yang aneh adalah sesuatu di keningnya, tepat di tengah. Kira-kira sebesar buku jari kelingking, menempel sebuah kristal berwarna ungu muda, nyaris transparan, berkilauan memantulkan cahaya matahari. Dirabanya kristal itu. Tak mau lepas. Jika ditarik, rasanya sakit. Akhirnya ia menyerah, mengalihkan perhatiannya pada penampilannya. Setelah mencuci muka dan menyingkirkan rumput dari rambutnya, ia berpaling menarik si peri untuk mengajaknya pergi.
         Mereka menyusuri sungai ke arah hilir. Sesekali berhenti untuk minum, atau bersembunyi di balik semak-semak jika ada hewan yang lewat. Ia tak mau mengambil resiko berhadapan dengan aloft lagi, setelah tau giginya tajam, juga berbisa. Merea berpapasan dengan berbagai hewan berwujud aneh. Ada yang sempat mengejar, makhluk berkaki empat bertanduk satu yang langsung bangkit begitu melihatnya. Hewan itu baru berhenti setelh dengan panik memanjat pohon—si peri terbang, sebetulnya—secepat mungkin dan tanduk hewan agresif itu menancap dengan bodoh di batang pohon. Ada pula seekor hewan kecil berbulu, berkaki pendek, yang jusru berlari terbirit-birit dengan ekor panjang melambai-lambai begitu melihat mereka. Yang menjengkelkan adalah seekor serangga kecil mungil, yang melompat tiba-tiba dan menggigit kulit, meninggalkan bekas kemerahan yang gatal bukan main.
         Tumbuhan yang di hutan itu juga amat beragam, berukuran tak lazim. Kebanyakan pohon adalah pohon biasa, hanya... berukuran raksasa. Tetapi, tumbuhan yang lebih berukuran kecil banyak yang berwana aneh atau bahkan bertingkah laku aneh. Tumbuhan berbentuk kantung, misalnya. Berwarna hijau cerah, dengan tinggi kira-kira satu meter. Beberapa sulur panjangmanjalar dari bagian bawah ‘kantung’nya. Ketika didekati sulur itu langsung hidup dan menyambar-nyambar, membuat mereka bergegas menyingkir.
         Tak jauh dari tumbuhan kantung itu terdapat sebatang pohon berbuah lebat. Si peri langsung terlihat girang dan tak lama kemudian merekan asyik makan buahnya. Dengan menyatuan beberapa daun yang cukup lebar, si gadis membuat semacam kantung dan memasukkan beberapa buah berwarna ungu itu sebagai bekal, kemudian meneruskan perjalanan.

                                                                                ***

    sebenernya di bab ini masih ada lanjutannya, tp di potong aja duluu :)

    Selasa, 03 April 2012

    biography of logan lerman

    Tanggal lahir
    19 Januari 1992, Beverly Hills, California, Amerika Serikat

    Lahir Nama
    Logan Lerman Wade

    Tinggi
    5 '8 ½ "(1.74 m)

    Mini Biografi
    Logan Lerman Wade lahir di Beverly Hills, California. Ibunya Lisa (Goldman), adalah manajernya, dan ayahnya, Larry, adalah seorang pengusaha. Dia memiliki dua saudara kandung, Lucas (kakak), dan Lindsey (saudara perempuan). Logan dan keluarganya adalah Yahudi.

    Logan ingin menjadi seorang aktor pada usia dini. Maka ia meminta ibunya dari keinginannya untuk menjadi aktor saat dia 2 1/2 tahun. Pada usia 4, Logan memiliki agen dan dipesan untuk dua iklan. Penampilan perdananya di layar lebar adalah sebagai William, putra bungsu dari karakter Mel Gibson dalam The Patriot (2000). Juga pada tahun 2000, ia muncul dengan aktor yang sama (Gibson), kali ini sebagai versi muda dari karakter nya Nick Marshall, di What Women Want (2000). Setelah peran kecil pada tahun 2001 itu Riding di Mobil dengan Boys (2001), ia membintangi John Grisham itu Rumah Painted (2003) (TV).

    Ia memainkan versi muda karakter Ashton Kutcher, Evan, dalam The Butterfly Effect (2004). Setelah memulai debut layar kecil dalam peran tamu-membintangi "10-8: Petugas di Duty" (2003), ia menatap sebagai Bobby (Robert) McCallister dalam seri Jaringan WB "Jack & Bobby" (2004), di mana ia digambarkan seorang remaja yang akan menjadi presiden masa depan Amerika Serikat. Setelah pembatalan acara pada 2005, Logan kembali ke film, membintangi petualangan keluarga Hoot (2006). Tahun berikutnya, ia bermain anak Walter Sparrow (Jim Carrey) dalam film thriller gelap Nomor 23 (2007), dan co-bintang dengan Russell Crowe dan Christian Bale dalam remake Barat baik ditinjau 3:10 ke Yuma (2007 ). Berikutnya dua peran sedang bermain seorang siswa sekolah bermulut kotor swasta di komedi Meet Bill (2007) dan versi muda dari aktor George Hamilton di drama My One dan Hanya (2009). Keduanya film independen yang menerima rilis terbatas. Juga pada tahun 2009, Logan muncul dengan Gerard Butler dalam film thriller R-rated tindakan gamer (2009), sebagai remaja yang mengontrol karakter Butler dalam video game kehidupan nyata.

    Pada tahun 2010, Logan memainkan karakter judul di petualangan fantasi Percy Jackson & The Olympians: The Lightning Thief (2010), memberinya melihat di antara khalayak yang lebih luas. Ia membintangi sebagai D'Artagnan dalam remake dari The Three Musketeers (2011), dan akan judul The Perks Menjadi gadis yg duduk tanpa berdansa (2012), sebuah film adaptasi dari buku 1999 dengan nama yang sama.

    Ketika Logan tidak bekerja, dia suka bermain sepak bola dan baseball. Dia adalah LA Lakers kipas, dan meskipun ia memainkan sebagian besar peran dramatis, ia menikmati bermain pranks pada teman-temannya.
    IMDb Mini Biografi Oleh: m leiblfinger


    Diumumkan kepada ibunya pada umur 2 1/2 bahwa dia akan menjadi aktor setelah menonton film Jackie Chan.

    Memiliki dua anjing.

    Muncul dengan Mel Gibson pada tahun 2000 dua kali, sekali sebagai anak karakternya di The Patriot (2000) dan sekali sebagai versi muda karakter sendiri di What Women Want (2000).

    Memainkan sepak bola dan bisbol (baik tim olahraga) dan berencana untuk mengambil pelajaran tenis.

    The "Jack & Bobby" (2004) musik tema yang dari The Patriot (2000), disusun oleh John Williams. Lerman juga membintangi The Patriot (2000); itu adalah pertama filmnya peran sebagai anak Mel Gibson termuda.

    Apakah sahabat dengan Dean Collins. Keduanya bertemu pada set "Jack & Bobby" (2004) dan membuat film pendek di waktu luang mereka.

    Memiliki dua saudara kandung, Lindsey Lerman dan Lucas Lerman.

    Ibunya, Lisa (Goldman), bekerja sebagai manajernya, dan ayahnya, Larry, adalah seorang pengusaha.

    Keluarganya memiliki perusahaan prostetik.

    Dihadiri Beverly Hills High School.

    Salah satu dari tiga aktor yang bermain putra aktor lain, kemudian pergi untuk bermain versi muda karakter yang aktor yang sama itu. Yang lainnya adalah Bruno Kirby, yang memainkan anak Richard S. Castellano di 'Super (1973) (TV)', dan kemudian Clemenza muda di The Godfather: Part II (1974), dan River Phoenix, yang bermain Harrison Ford putra di Pantai Nyamuk (1986), dan Indy muda di Indiana Jones dan Perang Salib terakhir (1989).

    Memiliki 2 anjing bernama Lola dan Stella.

    Personal Quotes

    [Tentang karakternya di "Jack & Bobby" (2004)] "Jenis anak sedikit orang benar-benar mengerti. Dia sedikit ketidakcocokan seorang."

    Saya lebih suka bermain olahraga dengan waktu luang saya. Saya juga suka menonton film klasik dan menonton acara TV tertentu, seperti "The Simpsons" (1989). Aku penggemar basket besar juga. Itu olahraga saya pilihan.

    [Menggambarkan geek adalah] "Fun aku bukan tipe pria memilih pada anak-anak di sekolah, tapi aku sudah melihat itu terjadi.. Saya tidak pernah benar-benar terlalu memikirkan untuk menjadi keren. Saya tidak benar-benar berpikir tentang salah satu cara atau yang lain. "

    Aku bukan tipe pria yang masuk ke ini menjadi terkenal.

    Hal terbaik tentang ini adalah mampu belajar dari, dan bertindak dengan, pahlawan Anda.

    Aku hanya tidak ingin mengulang hal yang sama berulang-ulang, jadi aku selalu mencari sesuatu yang akan menjadi menantang dan membuat saya gugup setiap kali saya memulai sebuah proyek.

    Aku dari Los Angeles dan akting yang dapat diakses. Selalu ada tempat untuk mengantri untuk ikut audisi dan aku agak memohon orang tua saya membawa saya. Ibuku dipelihara karir saya dan membantu saya memanjat tangga. Saya memiliki semangat untuk film dari usia muda. Saya pertama kali tertarik dalam bertindak ketika saya masih mungkin empat atau lima.

    Beberapa orang tidak memiliki pikiran yang terbuka, dan ketika saya bepergian ke berbagai tempat saya pikir saya merasa sulit untuk menikmati hal. Kau tahu, aku berasal dari sebuah kota besar di mana ada banyak hal yang terjadi, dan jika Anda berakhir di sebuah kota kecil di mana Anda tidak memiliki semua hal yang bisa merasakan perbedaannya. Di suatu tempat di sepanjang jalan, meskipun, saya kira saya belajar untuk menghargai perbedaan.

    Mereka mengatakan setiap tahun Anda menunda universitas adalah seperti tiga tahun jika Anda ingin kembali. Tapi, untuk saat ini, ini tampak seperti jalan yang benar

    Sabtu, 31 Maret 2012

    alien, teka-teki yang sulit di sentuh

    Manusia selalu dipenuhi rasa penasaran terhadap alam semesta.  Ada kalanya mereka merasa tidak sendirian. Ada makhluk lain di luar sana.

    “The Truth is Out There”. Jargon ini membuka setiap episode film serial The X-Files. Kemudian muncul dua rekanan cerdas, Fox Mulder (diperankan David Duchovny) dan Dana Scully (Gillian Anderson). Mulder dan Scully merupakan dua investigator handal  Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (AS) atau FBI.  Mereka ditugasi untuk memecahkan kasus rumit yang melibatkan aktivitas paranormal dan kehidupan Extra-Terrestrial, yang lebih dikenal dengan alien.

    Chris Carter, penulis skenario The X-Files termasuk sineas yang pintar meramu cerita. Lebih dari itu, dia sanggup menghadirkan konsep di luar jalur drama murni. Pilihannya jatuh pada pengisahan alien dan konsep “keberadaan dalam kekinian”, dua hal yang sampai sekarang masih menjadi kontradiksi.


    Belasan tahun sebelum The X-Files muncul, ada seorang sutradara yang sukses menampilkan sosok alien lewat dua film berturut-turut, Close Encounters of the Third Kind (1977) dan The E.T (1982). Dialah sutradara gemilang asal AS, Steven Spielberg. Kehadiran The E.T lumayan berkesan bagi anak-anak pada masa itu.

    Dikisahkan, seorang anak lelaki bernama Elliott menjalin persahabatan dengan makhluk dari planet lain. Relasi non-interpersonal antara dua makhluk yang berbeda dunia itu akhirnya menghasilkan energi emosional. Keduanya bergantung satu sama lain, hingga terasa berat kala harus berpisah.

    Kisah seperti inilah yang ditunggu anak-anak. Mereka tidak perlu pusing mencari tahu apa itu E.T, alien dan sebagainya. Anak-anak hanya butuh kisah sederhana. Spielberg sukses memberikan sesuatu yang dibutuhkan anak-anak. Kisah persahabatan dalam The E.T pun menuai keharuan pemirsa anak-anak.

    The X-Files, The E.T dan Close Encounters of the Third Kind adalah bukti bagaimana kekayaan imaji terwujud lewat sebuah karya. Disebut imaji, karena rupa dan sifat alien masih menjadi misteri. Jangankan rupa dan sifat, eksistensi alien pun masih dipertentangkan. Perdebatan yang bergulir selama puluhan tahun tidak juga menghasilkan satu konsensus tentang eksistensi alien.

    Ilmuwan masih saling debat. Kaum awam sibuk melempar persepsi. Beberapa kelompok giat memonitor semua sumber frekuensi yang dekat dengan bumi. Untuk apa? Tentu untuk melacak keberadaan alien atau bentuk kehidupan lain. Ada yang bermimpi bisa melakukan kontak dengan E.T demi mencari tahu misteri semesta. Sementara, beberapa lainnya berdoa supaya tidak sekalipun bertemu dengan alien.

    Ketika Alien Mengunjungi Bumi

    Bulir pertentangan tentang alien menjadi kian serius kala pemerintah beberapa negara menerbitkan laporan terkait penampakan objek tak dikenal. Inggris, Jerman, Prancis dan AS diketahui kerap merilis laporan tentang penampakan Unidentified Flying Object (UFO) serta alien. Satu hal yang cukup mengejutkan ketika Inggris mencatat laporan penampakan alien lebih banyak dari tiga negara yang lain.

    Terhitung sejak 1993, ada sekitar 8000 penampakan alien yang datang dari berbagai kawasan di Inggris. Namun, pemerintah Inggris tidak segera merilis laporan. Kasus penampakan UFO justru disimpan rapat selama belasan tahun. Kenyataannya, bukan hanya Inggris yang memberlakukan kebijakan demikian.
    Prancis, misalnya baru merilis laporan tentang penampakan UFO pada Maret 2007. Saat itulah sebanyak 1600 laporan penampakan UFO dalam lima dekade terakhir dipublikasikan secara resmi. Momen ini sekaligus menjadikan Prancis sebagai negara pertama yang dengan besar hati merilis dokumen tentang penampakan UFO.

    “Ini adalah pertama kalinya di dunia. Kita harus bangga,” kata teknisi antariksa sekaligus peneliti fenomena benda angkasa tak teridentifikasi, Jacques Patenet. Menurut Patenet, UFO, yang disebut Objet Volant Non-Identifié (OVNI) dalam bahasa Prancis merupakan bagian dari teori konspirasi.
    Konsep ini mungkin bisa dipahami pemerintah atau ilmuwan sekelas Patenet, namun cukup sulit dimengerti kaum awam. “Pemerintah punya agen rahasia yang ditugasi untuk menjauhkan kasus ini dari publik,” kata Patenet mengawali penjelasan. Lebih lanjut Patenet menerangkan, kerahasiaan kasus jelas sesuatu yang disengaja. Apa tujuaannya? “Supaya publik tidak panik,” sahutnya.

    Penjelasan Patenet ini ada benarnya. Tidak semua orang siap dengan cerita tentang penampakan UFO dan alien. Setiap pribadi memiliki level kesigapan dan emosi yang berbeda. Penampakan alien bagai alarm. Bisa mengejutkan, tetapi memungkinkan pula diterima dengan tanggapan yang serba biasa.

    Sementara, pemerintah juga harus memastikan keakuratan laporan saksi mata. Pemerintah Prancis bahkan berani memberi label “Tipe D” terhadap sebagian besar dokumen. Apa itu Tipe D? Bisa dipastikan merujuk pada tataran yang membedakannya dari tipe A, B.C dan seterusnya. Hal ini dibenarkan Patenet.

    “Tipe D adalah kategori laporan dengan kualitas data yang baik, saksi mata kredibel dan berkaitan dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan,” katanya lagi. Penjelasan tentang UFO dan alien memang belum bisa dilisankan. Patenet pun sulit mengungkap bentuk makhluk ini. Atas nama pengetahuan, Patenet dan rekan ilmuwan lain bertutur semampu mereka. Cukup berhati-hati memberikan penjelasan, karena mereka tidak menerima penampakan secara langsung.

    Jauh sebelum laporan mulai dirilis, UFO dan “para penumpangnya” mengawali penampakan di antara desingan peluru dan roket yang diluncurkan dari jet terbaik AS. Tepatnya pada masa Perang Dunia (PD) II, saat UFO melintas cepat di atas zona perang Eropa serta daerah Operasi Teater Pasifik.
    “Foo Fighter”, demikian pilot pesawat tempur AS menyebut si objek tak dikenal. Hari-hari berikutnya, sebutan ini justru menjadi sandi antar anggota Skuadron Tempur Malam 415. Kelompok inilah yang melihat UFO untuk pertama kali. Menurut cerita, skuadron tengah berpatroli malam ketika tiba-tiba muncul sebuah benda bercahaya di depan pesawat.

    Terkejut, sudah pasti. Seorang anggota skuadron yang panik lekas menghubungi awak pesawat lain. Meyakinkan bahwa apa yang baru dilihatnya sungguh terjadi. Cukup lega karena anggota skuadron tersebut menerima pembenaran dari yang lain. Namun, lagi-lagi laporan ini ditutup. Pejabat intelijen AS mengunci mulut. Kisah penampakan alien di depan skuadron PD II akhirnya tersambung luas dari mulut ke mulut. Tidak pernah ada rilis resmi dari pemerintah AS maupun sekutunya.

    Mereka Bicara tentang Alien

    Bergerak lebih jauh ke belakang, ada seorang ilmuwan yang menyinggung sedikit tentang kehidupan di luar Bumi. Dialah ilmuwan psikoanalisis asal Austria, Sigmund Freud. Lewat bukunya, The Future of an Illusion (1927), Freud memberi cakupan singkat tentang kekuatan alien. “Seperti seorang manusia yang bertumbuh, masa kecil hanyalah kenangan. Seorang anak kecil dengan segala proteksi yang diperoleh, tidak akan sanggup melawan kekuatan superior alien,” tulis Freud dalam bukunya.

    Pengikut paham Freud atau Freudianisme tentu paham dengan apa yang ingin disampaikan Freud. Lepas dari pemaknaan Freud atas kehidupan alien, ada satu yang perlu dicermati. Dia memang bicara tentang id, ego dan super ego. Freud juga banyak menulis tentang peradaban manusia serta berspekulasi tentang masa depan. Kajian ini identik dengan Freud. Namun sekali lagi, Freud, puluhan tahun sebelum penampakan alien di depan skuadron PD II sudah mencantumkan perihal alien, bahkan bicara tentang “kekuatan superior” si makhluk misterius.

    Kendati memaparkan kehidupan di luar peradaban manusia, tetapi Freud tidak pernah memaksa pembaca untuk mengikuti apa yang diyakininya. “Tidak ada satu orang pun yang bisa dipaksa untuk percaya. Maka, tidak ada satu orang pun  yang bisa dipaksa untuk tidak percaya,” tulis Freud.

    Kekuatan superior alien, seperti yang tengah diperdebatkan ilmuwan kekinian. Dari sekian banyak ilmuwan yang gencar memperdebatkan alien, Stephen Hawking selalu menyerang dari baris depan. Ilmuwan astrofisika ini sadar, alien semakin dekat dnegan kehidupan manusia. Banyak laporan yang menyatakan manusia bukan saja melihat alien, tetapi juga berkomunikasi dengan E.T.

    Hawking khawatir, komunikasi ini akan membahayakan manusia. “Kita tidak tahu alien tampil sebagai apa,” ujar Hawking beralasan. Menurut Hawking, alien bisa tampil sebagai sosok yang bersahabat. Namun, memungkinkan pula alien hadir sebagai predator. Itulah sebabnya dia meminta penduduk bumi untuk menghindari kontak dengan alien.

    Ditambah lagi, manusia tidak mengerti pola kehidupan alien. Ketidakpahaman ini diikuti ketidakpahaman yang lain, misalnya sifat dasar dan tingkat kecerdasan alien. “Kecerdasan alien bisa membawa pengaruh yang tidak kita inginkan,” kata Hawking melanjutkan penjelasan. Dia mengingatkan risiko dan implikasi negatif atas kehadiran alien di bumi.

    “Menurut otak matematika saya, peradaban alien memang ada. Tapi sebaiknya kita tidak bersinggungan dengan mereka,” tegasnya. Ilmuwan ini meyakini konsep semesta yang paralel. “Dan saya mengerti, kehidupan alien sulit disentuh,” paparnya kemudian.  Namun sekali saja manusia mengadakan kontak, jarak antar dua kehidupan akan menyempit. “Sebuah kedekatan bisa membawa masalah,” tandas Hawking.

    macam-macam Alien

    nih ada gambar-gambar Alien..




    -Nordic:

    Bentuk alien jenis ini yang paling mirip dengan manusia, hanya saja bentuknya agak lebih besar sedikit, dengan rambut pirang (putih), badannya atletis, bermata biru dan dalam berkomunikasi sering terdengar dengan akses nordic (skandinavia). Mereka ini yang diperkirakan merupakan golongan yang disebut-sebut dalam Book of Enoch I sebagai "the son of gods" atau "the Fallen Angel". Satu persamaan dengan kesaksian seorang yang pernah berjumpa alien jenis ini, yaitu Billy Meier, dia mengatakan bahwa bertemu dengan alien tipe nordics yang bernama Semjase yang berasal dari Pleiades. Persamaannya, dalam Book of Enoch I, "malaikat-malaikat yang jatuh" itu bernama Semjaza. Menurut kesaksian orang yang pernah berjumpa dengan alien nordics ini, mereka mengatakan bahwa dari alien nordics ini sebagian bekerja bersama alien greys dan master mereka adalah alien tipe reptoid. Beberapa saksi korban penculikan oleh alien menyatakan bahwa mereka juga melihat manusia selain alien tipe greys. Diduga, sebenarnya itu bukan manusia, namun alien jenis nordics.

    Alien tipe nordics ini ditengarai melakukan kerja sama dengan Hitler (Nazi) di waktu Perang Dunia II, di mana pada perang tersebut sering dijumpai Foo Fighter, sebuah pesawat aneh (UFO) banyak disaksikan oleh pilot AS, Inggris maupun Jepang. Itu sebabnya juga, Hitler mengagungkan bangsa Arya yang hebat dengan rambut putih/pirang dan bermata biru.
     
     
     
     
    -Hybrid:
     
    Golongan ini adalah hasil rekayasa genetika (hybrid) antara alien dengan human. Bentuknya belum sempurna mirip manusia, kadang berupa seperti anak kecil, berambut dan kepalanya agak lebih besar bila dibandingkan dengan kepala normal manusia. Sebagian hybrid juga ada yang menyerupai manusia, ada yang berambut dan ada juga yang tanpa rambut. Kulitnya cenderung pucat dan bermata seperti alien greys. Sebagian menduga bahwa Men in Black adalah alien hybrid yang menutupi mata besar mereka dengan kaca mata hitam. Selain itu makhluk Chupacabra (goat sucker) adalah hasil hybrid juga. Rekayasa genetika (hybrid) ini diduga adalah upaya alien untuk bisa menciptakan makhluk yang bisa tinggal dengan bebas/lebih lama di dimensi manusia. 
     
     
     



    -Reptoid:
     
    Tubuhnya sebesar manusia atau kadang lebih besar, dengan mulut yang lebih lebar dari mulut manusia. Tubuhnya mirip sejenis ular atau kadal, berwarna hijau, dan agak bersisik. Dikabarkan, ada beberapa di antara mereka yang memiliki sayap. Gambaran yang paling sesuai dengan alien jenis ini adalah "winged demon". Tidak semua jenis Reptilian ini bersayap. Yang bersayap merupakan jenis Draco atau "naga", sementara yang tidak bersayap sering digolongkan dalam jenis serpent atau "ular". Dari kesaksikan beberapa saksi, alien tipe greys dikabarkan bekerja untuk alien tipe Reptoid ini.








    -Grey Alien:
     
    Tubuhnya kecil dengan kulit berwarna keabu-abuan. Nampaknya merupakan suatu ras alien kelas pekerja atau ahli teknik. Ciri khasnya adalah bermata hitam besar. Spesies ini yang dikabarkan sering dijumpa manusia dan sering melakukan penculikan (alien abduction). Selain itu, tipe inilah yang dikabarkan jatuh di Roswell dan kini dikabarkan melakukan konspirasi dengan pihak militer AS secara rahasia. Alien tipe greys ini dikabarkan merupakan jenis alien dari golongan serangga dengan wajah mirip belalang. Alien tipe greys ini adalah jenis alien yang paling populer, bahkan sudah dipakai sebagai cap merk dagang yaitu Alien Workshop.
     

     
     
     
     
     
     


      


















     








      
     
     
     
     

              

     
     
            

     
       



     
     
     

           
            

    Berita dari konferensi pers NASA mengenai "Alien" - penemuan bentuk kehidupan unik yang baru

     Ada lagi, yang saya temukan dan menarik tentang UFO maupun Alien.

    Beberapa tahun yang lalu, NASA telah menimbulkan kehebohan di dunia maya dengan mengumumkan akan diadakannya konferensi pers yang isinya disebut "akan membawa dampak besar bagi pencarian bukti kehidupan luar angkasa". Perkataan ini telah membuat media dan para blogger berspekulasi mengenai kemungkinan telah ditemukannya kehidupan luar angkasa oleh NASA.


    Media-media segera menurunkan berita dengan judul seperti:

    "Did they find ET?"

    atau

    "Has NASA found little green men?"

    Di Indonesia, Kompas.com memberitakannya dengan judul: "NASA menemukan alien?"

    Vivanews bahkan memberitakannya dengan judul: "Besok, Nasa gelar konpres soal alien", tanpa tanda tanya dibelakang judul tersebut.

    Salah seorang blogger ternama di Amerika percaya kalau NASA mungkin telah menemukan kehidupan di Titan, bulan Saturnus. Blogger-blogger lain bahkan bertanya-tanya, apakah penemuan  mayat alien di Roswell juga akan diumumkan.

    Jadi, beberapa pembaca meminta saya untuk memposting hasil konferensi pers NASA yang telah dilakukan hari ini waktu Indonesia.

    Nah, inilah hasil konferensi pers tersebut, cukup membosankan sebenarnya.

    NASA mengadakan konferensi pers bukan untuk mengumumkan penemuan bentuk kehidupan cerdas di luar angkasa (alien). Mereka memang menemukan bentuk kehidupan yang luar biasa, namun bukan di planet lain, melainkan di bumi ini.

    Penemuan yang dimaksud adalah penemuan mikroba di danau Mono, California.

    Mikroba ini bukan mikroba sembarangan. Ia bisa bertahan hidup dan bereproduksi dengan menggunakan arsenik, sebuah elemen yang sebelumnya dianggap beracun bagi kehidupan.

    Selama ini, kita mengenal ada enam elemen utama yang membentuk kehidupan di bumi ini, yaitu: Karbon, Hidrogen, Nitrogen, Oksigen, Fosforus dan Sulfur.

    Fosforus sendiri adalah salah satu unsur penting pendukung DNA dan RNA dan dianggap sebagai elemen penting bagi semua sel hidup.

    Mikroba yang ditemukan di danau Mono bisa mengganti Fosforus dengan Arsenik di dalam komponen selnya.

    Walaupun Arsenik memiliki struktur kimiawi yang mirip dengan Fosforus, namun elemen ini berbahaya bagi bentuk kehidupan di bumi karena ia bisa mengganggu jalur metabolisme.

    Felisa Wolfe Simon, salah seorang ahli Astrobiologi dari NASA yang juga kepala tim peneliti yang menemukan mikroba ini mengatakan:
    "Kami tahu kalau memang ada beberapa jenis mikroba yang bisa bernapas dengan Arsenik. Namun apa yang kami temukan ini adalah sesuatu yang baru. Mikroba-mikroba tersebut membangun tubuhnya dengan menggunakan Arsenik."
    "Jika sesuatu di bumi ini bisa melakukan hal yang tidak terduga seperti itu, pasti ada hal lain lagi yang bisa dilakukan oleh kehidupan yang belum pernah kita lihat sebelumnya."
    Penemuan ini tentu saja akan mengubah ilmu pengetahuan yang selama ini kita kenal. Selama ini, para peneliti selalu menggunakan patokan sains yang telah dikenal untuk menemukan planet yang memiliki karakteristik yang bisa mendukung kehidupan. Kini patokan itu telah bertambah luas.

    "Definisi kehidupan baru saja berkembang," Kata Ed Weiler, Salah seorang pejabat di departemen ilmu pengetahuan NASA.
    "Sementara kita terus berusaha untuk menemukan tanda-tanda kehidupan di sistem tata surya kita, mungkin kita harus berpikir lebih luas, lebih beragam dan mempertimbangkan kehidupan lain yang tidak kita kenal sebelumnya."
    Mikroba ini, yang disebut GFAJ-1, adalah anggota dari kelompok bakteri Gammaproteobacteria.

    Penemuan ini pertama kali terjadi ketika para peneliti membawa mikroba-mikroba tersebut ke laboratorium dan mengembangkannya. Ketika mereka mengganti Fosforus dengan Arsenik, mikroba tersebut terus bertumbuh. Bahkan mereka menggunakan Arsenik itu untuk membangun sel-sel baru sehingga elemen itu menjadi bagian dari sistem biokimianya, seperti DNA, protein dan membran sel.

    Tim peneliti ini memutuskan untuk meneliti danau Mono karena kondisinya yang tidak biasa. Danau ini dikenal memiliki kadar garam, Alkalin dan Arsenik yang tinggi akibat terpisahnya danau ini dari sumber air tawar selama lebih dari 50 tahun.

    Konferensi pers ini mungkin mengecewakan bagi para penggemar alien. Namun, paling tidak NASA benar ketika mereka mengatakan kalau penemuan ini bisa membawa dampak besar bagi usaha pencarian kehidupan di luar angkasa. Sekarang mereka bisa berpikir di luar kotak dan melihat kepada kemungkinan yang lebih luas.